Belajar yang rajin, Bekerja, Berkarya, dan Bermanfaat untuk sesama! Percayalah, tidak ada hal yang sia-sia. Semoga Tuhan memudahkan jalan kita dalam menuntut dan mengamalkan ilmu. Aamiin... :D

Kamis, 12 Juli 2012

METODE DAN MEDIA PROMKES


METODE DAN MEDIA PPROMOSI KESEHATAN

A.    METODE PROMOSI KESEHATAN
Promosi kesehatan pada hakikatnya ialah suatu kegiatan atau usaha menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat, kelompok atau individu. Dengan adanya pesan tersebut maka diharapkan masyarakat, kelompok, atau individu dapat memperoleh pengetahuan tentang kesehatan yang lebih baik. Pengetahuan tersebut akhirnya diharapkan dapat berpengaruh terhadap perilaku. Dengan kata lain, adanya promosi tersebut diharapkan dapat membawa akibat terhadap perubahan perilaku sasaran.
Promosi kesehatan juga merupakan suatu proses yang mempunyai masukan (input) dan keluaran (output). Suatu proses promosi kesehatan yang menuju tercapainya tujuan pendidikan, yakni perubahan perilaku, dipengaruhi oleh bannyak faktor. Faktor tersebut, disamping faktor masukannya sendiri juga faktor metode, faktor materi atau pesannya, pendidik atau petugas yang melakukannya, dan alat-alat bantu/alat peraga pendidikan yang dipakai. Agar mencapai suatu hasil yang optimal, maka faktor-faktor tersebut harus bekerjasama secara harmonis. Hal ini berarti bahwa untuk masukan (sasaran pendidikan) tertentu harus menggunakan cara tertentu pula. Materi juga harus disesuaikan dengan sasaran. Demikian juga alat bantu pendidikan. Untuk sasaran kelompok maka metodenya harus berbeda dengan sasaran massa dan sasaran individual. Untuk sasaran massa pun harus berbeda dengan sasaran individual dan sebagainya.
Dibawah ini diuraikan beberapa metode pendidikan individual, kelompok, dan massa (public).
1.      Metode Pendidikan Individual atau Perorangan
Dalam promosi kesehatan, metode pendidikan yang bersifat individual digunakan untuk membina perilaku baru, atau membina seseorang yang mulai tertarik kepada suatu perubahan perilaku atau inovasi. Misalnya, membina seorang ibu yang baru saja menjadi akseptor atau seorang ibu hamil yang sedang tertarik terhadap imunisasi TT karena baru saja memperoleh atau mendengarkan penyuluhan kesehatan. Pendekatan yang digunakan agar ibu tersebut menjadi akseptor lestari atau ibu hamil tersebut segera minta imunisasi, adalah dengan pendekatan secara perorangan. Perorangan disini tidak hanya berarti harus hanya kepada ibu-ibu yang bersangkutan, tetapi mungkin juga kepada suami atau keluarga ibu tersebut.
Dasar digunakannya pendekatan individual ini karena setiap orang mempunyai masalah atau alasan yang berbeda-beda sehubungan dengan penerimaan atau perilaku baru tersebut. Agar petugas kesehatan mengetahui dengan tepat serta dapat membantunya maka perlu menggunakan metode (cara). Bentuk pendekatan ini antara lain :
a.    Bimbingan dan Penyuluhan (Guidance And Counceling)
     Dengan cara ini kontak antara klien dengan petugas lebih intensif. Setiap masalah yang dihadapi oleh klien dapat diteliti dan dibantu penyelesaiannya,. Akhirnya klien tersebut dengan sukarela, berdasarkan kesadaran, dan penuh pengertian akan menerima perilaku tersebut (mengubah perilaku).
b.   Wawancara (Interview)
     Cara ini sebenarnya mmerupakan bagian dari bimbingan dan penyuluhan. Wawancara antara petugas kesehatan dengan klien untuk menggali informasi mengapa ia tidak atau belum menerima perubahan, apakah ia tertarik atau tidak menerima perubahan untuuk mengetahui apakah perilaku yang sudah atau yang akan diadopsi itu mempunyai dasar pengertian dan kesadaran yang kuat. Apabila belum maka perlu penyuluhan yang lebih mendalam lagi.
2.      Metode Pendidikan Kelompok
Dalam memilih metode pendidikan kelompok, perlu diingat besarnya kelompok, sasaran, serta tingkat pendidikan formal dari sasaran. Untuk kelompok yang besar, metodenya akan lain dengan kelompok kecil. Efektivitas suatu metode akan tergantung pula pada besarnya sasaran pendidikan.
a.       Kelompok Besar
Yang dimaksud kelompok besar disini adalah peserta penyuluhan itu lebih dari 15 orang. Metode yang baik untuk kelompok besar ini, antara lain ceramah dan seminar.
1.      Ceramah
Metode ini baik untuk sasaran yang berpendidikan tinggi maupun rendah. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan metode ceramah :
a.       Persiapan
Ceramah akan berhasil apabila penceramah menguasai materi yang akan disampaikan untuk itu penceramah harus mempersiapkan diri dengan :
1.)    Mempelajari materi dengan sistematika yang baik. Lebih baik lagi kalau disusun dalam diagram atau skema.
2.)    Mempersiapkan alat-alat bantu pengajaran, misalnya makalah singkat, slide, transparan, sound sistem, dan sebagainya.
b.      Pelaksanaan
Kunci dari keberhasilan pelaksanaan ceramah adalah apabila penceramah tersebut dapat menguasai sasaran ceramah. Untuk itu penceramah dapat melakukan hal-hal sebagai berikut :
1.)    Sikap dan penampilan yang meyakinkan, tidak boleh bersikap ragu-ragu dan gelisah.
2.)    Suara hendaknya cukup keras dan jelas.
3.)    Pandangan hatrus tertuju ke seluruh peserta ceramah.
4.)    Berdiri di depan (dipertengahan. Ttidak boleh duduk.
5.)    Menggunakan alat-alat bantu lihat (AVA) semaksimal mungkin.
2.      Seminar
Metode ini hanya cocok untuk sasaran kelompok besar dengan pendidikan menengah keatas. Seminar adalah suatu penyajian (presentasi) dari suatu ahli atau beberapa ahli tentang suatu topik yang dianggap penting dan biasanya dianggap hangat di masyarakat.
b.      Kelompok Kecil
Apabila peserta kegiatan itu kurang dari 15 orang biasanya kita sebut kelompok kecil. Metode-metode yang cocok untuk kelompok kecil ini antara lain :
1.)    Diskusi Kelompok
Agar semua anggota kelompok dapat bebas berpartisipasi dalam diskusi maka formasi duduk para peserta diatur sedemikian rupa sehingga mereka dapat berhadap-hadapan atau saling memandang satu sama lain, misalnya dalam bentuk lingkaran atau segi empat. Pemimpin diskusi juga duduk di antara peserta sehingga tidak menimbulkan kesan ada yang lebih tinggi. Dengan kata lain mereka harus merasa berada dalam taraf yang sama, sehingga tiap anggota kelompok mempunyai kebebasan/ keterbukaan untuk mengeluarkan pendapat.
Untuk memulai diskusi, pemimpin diskusi harus memberikan pancingan-pancingan yang dapat berupa pertanyaan-pertanyaan atau kasus sehubungan dengan topik yang dibahas. Agar terjadi diskusi yang hidup maka pemimpin kelompok harus mengatur dan mengarahkan jalannya diskusi sehingga semua orang dapat kesempatan berbicara dan tidak menimbulkan dominasi dari salah seorang peserta. 
2.)    Curah Pendapat (Brain Storming)
Metode ini merupakan modifikasi metode diskusi kelompok. Prinsipnya sama dengan metode diskusi kelompok. Bedanya pada permulaannya pemimpin kelompok memancing dengan satu masalah dan kemudian tiap peserta memberikan jawaban-jawaban atau tanggapan (curah pendapat). Tanggapan atau jawaban-jawaban tersebut ditampung dan ditulis dalam flipchart atau papan tulis. Sebelum semua peserta mencurahkan pendapatnya, tidak boleh diberikan komentar oleh siapapun. Harus setelah semua mengelurakan pendapatnya, tiap anggota dapat mengomentari, dan akhirnya terjadi diskusi.
3.)    Bola Salju (Snow Balling)
Kelompok dibagi dalam pasangan-pasangan (1 pasang 2 orang) kemudian dilontarkan suatu pertanyaan atau masalah. Setelah lebih kurang 5 menit maka tiap 2 pasang bergabung menjadi 1. Mereka tetap mendiskusikan masalah tersebut, dan mencari kesimpulannya.
Kemudian tiap-tiap pasang yang sudah beranggotakan 4 orang ini bergabung lagi dengan pasangan lainnya dan demikian seterusnya sehingga akhirnya akan terjadi diskusi seluruh anggota kelompok. 
4.)    Kelompok-kelompok Kecil (Buzz Group)
Kelompok langsung dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil (buzz group) yang kemudian diberi suatu permasalahan yang sama atau tidak sama dengan kelompok lain. Masing-masing kelompok mendiskusikan masalah tersebut. Selanjutnya hasil dari tiap kelompok didiskusikan kembali dan dicari kesimpulannya.
5.)    Memainkan Peranan (Role Play)
Dalam metode ini beberapa anggota kelompok diunjuk sebagai pemegang peran tertentu untuk memainkan peranan, misalnya sebagai dokter Puskesmas, sebagai perawat, atau bidan, dan sebagainya, sedangkan anggota yang lain sebagai pasien atau anggota masyarakat.
Mereka memperagakan, misalnya bagaimana komunikasi/interaksi sehari-hari dalam melaksanakan tugas.
6.)    Permainan Simulasi (Simulation Game)
Metode ini merupakan gabungan antara role play dengan diskusi kelompok. Pesan-pesan kesehatan disajikan dalam beberapa bentuk permainan seperti permainan monopoli. Cara memainkannya persis seperti bermain monopoli dan menggunakan dadu, gaco (petunjuk arah) selain beberan atau papan main. Beberapa orang menjadi pemain dan sebagian lagi berperan sebagai narasumber.
3.      Metode Pendidikan Massa
Metode pendidikan (pendekatan massa) cocok untuk mengkomunikasikan pesan-pesan kesehatan yang ditujukan kepada masyarakat. Oleh karena sasaran pendidikan ini bersifat umum, dalam arti tidak membedakan golongan umur, jenis kelamin, pekerjaan, status sosial ekonomi, tingkat pendidikan, dan sebagainya, maka pesan-pesan kesehatan yang akan disampaikan harus dirancang sedemikian rupa sehingga dapat ditangkap oleh masa tersebut. Pendekatan ini biasanya digunakan untuk menggugah kesadaran masyarakat terhadap suatu inovasi awarenss, dan belum begitu diharapkan untuk sampai pada perubahan tingkah laku. Namun demikian, bila kemudian dapat berpengaruh terhadap perubahan perilaku juga merupaka hal yang wajar. Pada umumnya, bentuk pendekatan (cara) massa ini tidak langsung. Biasanya dengan menggunakan atau melalui media massa. Berikut ini akan dijelaskan beberapa contoh metode yang cocok untuk pendekatan massa.
a.       Ceramah umum (public speaking)
Pada cara-cara tertentu, misalnya pada hari kesehatan nasional, menteri kesehatan atau pejabat kesehatan lainnya berpidato dihadapan massa rakyat untuk menyampaikan pesan-pesan kesehatan.
Safari KB juga merupakan salah satu bentuk pendekatan massa.
b.      Pidato-pidato/diskusi tentang kesehatan melalui media elektronik, baik TV maupun radio, pada hakikatnya merupakan bentuk pendidikan kesehatan massa.
c.       Simulasi, dialog antara pasien dengan dokter atau petugas kesehatan lainnya tentang suatu penyakit atau masalah kesehatan disuatu media massa adalah juga merupakan pendekatan pendidikan kesehatan massa contoh : Praktik Dokter Herman Susilo di televisi pada tahun 1980-an.
d.      Sinetron Dokter Sartika dalam acara TV pada tahun 1990-an juga merupakan pendekatan pendidikan kesehatan massa.
e.       Tulisan-tulisan dimajalah atau Koran, baik dalam bentuk artikel maupaun Tanya jawab/ konsultasi tentang kesehatan dan penyakit juga merupakan bentuk pendekatan pendidikan kesehatan massa.
f.       Billboard, yang dipasang dipinggir jalan, spanduk, poster, dan sebagainya juga merupakan bentuk pendidikan kesehatan massa. Contoh : Billboard Ayo ke Posyandu.

B.     ALAT BANTU/PERAGA/MEDIA PROMOSI KESEHATAN
1.      Pengertian
Yang dimaksid alat bantu pendidikan adalah alat-alat yang digunakan oleh pendidik dalam menyampaikan bahan pendidikan atau pengajaran. Alat bantu ini lebih sering disebut sebagai alat peraga karena berfungsi untuk membantu dan memperagakan sesuatu di dalam suatu proses pendidikan/pengajaran.
Alat peraga ini disusun berdasarkan prinsip bahwa pengetahuan yang ada pada setiap manusia diterima atau ditangkap melalui panca indra. Semakin banyak indra yang digunakan untuk menerima sesuatu maka semakin banyak dan semakin jelas pula pengertian/pengetahuan yyang diperoleh. Dengan perkataan lain alat peraga ini dimaksudkan untuk mengerahkan indra sebanyak mungkin kepada suatu objek, sehingga mempermudah pemahaman.
Seseorang atau masyarakat di dalam proses pendidikan dapat memperoleh pengalaman/pengetahuan melalui berbagai macam alat bantu pendidikan. Tetapi masing-masing alat mempunyai intensitas yang berbeda-beda di dalam membantu permasalahan seseorang.
Edgar Dale membagi alat peraga tersebut menjadi 11 macam, dan sekaligus menggambarkan tingkat intensitas tiap-tiap alat tersebut dalam sebuah kerucut.



Kerucut Edgar dale
1.      Kata-kata
2.      Tulisan
3.      Rekaman, radio
4.      Film
5.      Televise
6.      Pameran
7.      Field trip
8.      Demonstrasi
9.      Sandiwara
10.  Benda tiruan
11.  Benda asli

Dari kericut tersebut dapat dilihat bahwa lapisan yang paling dasar adalah benda asli dan yang paling atas adalah kata-kata. Hal ini berarti bahwa dalam proses pendidikan, benda asli mempunyai intensitas yang lebih tinggi untuk mempersepsikan bahan pendidikan atau pengajaran. Sedangkan penyampaian bahan yang hanya dengan kata-kata saja sangat kurang efektiv atau intensitasnya paling rendah. Jelas bahwa penggunaan alat peraga merupakan pengamalan salah satu prinsip proses pendidikan.
Dalam rangka promos kesehatan, masyarakat sebagai consumer juga dapat dilibatkan dalam pembuatan alat peraga (alat bantu pendidikan). Untuk itu peran petugas kesehatan bukan hanya membimbing dan membina, dalam hal kesehatan mereka sendiri, tetapi juga memotivasi mereka sehingga meneruskan informasi kesehatan kepada anggota masyarakat yang lain.
Alat peraga akan sangat membantu di dalam melakukan penyuluhan agar pesan-pesan kesehatan dapat disampaikan lebih jelas, dan masyarakat sasaran dapat menerima pesan tersebut dengan jelas dan tepat pula. Dengan alat peraga orang dapat llebih mengerti fakta kesehatan yang dianggap rumit, sehingga mereka dapat menghargai betapa bernilainya kesehatan itu bagi kehidupan.
2.      Faedah Alat Bantu Promosi (Pendidikan)
Secara terperinci, faedah alat peraga antara lain adalah sebagai berikut :
a.    Menimbulkan minat sasaran pendidikan.
b.   Mencapai sasaran yang lebih banyak.
c.    Membantu dalam mengatasi banyak hambatan dalam pemahaman.
d.   Merangsang sasaran pendidikan untuk meneruskan pesan-pesan yang diteima kepada orang lain.
e.    Mempermudah penyampaian bahan pendidikan atau informasi oleh para pendidik atau pelaku pendidikan.
f.    Mempermudah penerima informasi oleh sasaran pendidikan. Seperti diuraikan di atas bahwa pengetahuan yang ada pada seseorang diterima melalui indra. Menurut penelitian para ahli, indra yang paling banyak menyalurkan pengetahuan ke dalam otak adalah mata. Kurang lebih 75% sampai 87% dari pengetahuan manusia diperoleh/disalurkan melalui mata. Sedangkan 13% samapi 25% lainnya tersalur melalui indra yang lain. Dari sini dapat disimpulkan bahawa alat-alat visual lebih mempermudah cara penyampaian dan penerimaan informasi atau bahan pendidikan.
g.   Mendorong keinginan orang untuk mengetahui, kemudian lebih mendalami, dan akhirnya mendapatkan pengertian yang lebih baik. Orang yang melihat sesuatu yang memang diperlukan tentu akan menarik perhatiannya, dan apa yang dilihat dengan penuh perhatian akan memberikan pengertian baru baginya, yang merupakan pendorong untuk melakukan/melakukan sesuatu yang baru tersebut.
h.   Membantu menegakkan pengertian yang diperoleh. Di dalam menerima sesuatu yang baru, manusia mempunyai kecenderungan untuk melupakan atau lupa terhadap pengertian yang telah diterima. Untuk mengatasi hal ini alat bantu akan membantu menegakkan pengetahuan-pengetahuan yang telah diterima sehingga apa yang telah diterima akan lebih lama tersimpan di dalam ingatan.
3.      Macam-macam Alat Bantu Promosi (Pendidikan)
Pada garis besarnya hanya ada 3 vmacam alat bantu pendidikan (alat peraga).
a.       Alat bantu lihat (visual aids) yang berguna dalam membantu menstimulasi indera mata (penglihatan) pada waktu terjadinya proses pendidikan. Alat ini ada 2 bentuk :
1.      Alat yang diproyeksikan, misalnya slide, film, film strip, dan sebagainya
2.      Alat-alat yang tidak diproyeksikan :
-          2 dimensi, gambar peta, bagan, dan sebagainya.
-          3 dimensi, misalnya bola dunia, boneka, dan sebagainya.
b.      Alat bantu dengar (audio aids), yaitu alat yang dapat membantu untuk menstimulasikan indewra pendengar pada waktu proses penyampaian bahan pendidikan/bahan pengajaran. Misalnya : piring hitam, radio, pita suara, dan sebagainya.
c.       Alat bantu lihat-dengar, seperti televise dan video cassette. Alat-alat bantu pendidikan ini lebih dikenal dengan audio visual aids (AVA).
Disamping pembagian tersebut, alat peraga juga dapat dibedakan menjadi 2 macam menurut pembuatannya dan penggunaannya.
a.       Alat peraga yang complicated (rumit), seperti film, film strip, slide, dan sebagainya yang memerlukan listrik dan proyektor.
b.      Alat peraga yang sederhana, yang mudah dibuat sendiri dengan bahan-bahan setempat yang mudah diperoleh seperti bambu, karton, kaleng bekas, kertas koran, dan sebagainya.
1.      Contoh alat peraga sederhana
Beberapa contoh alat peraga sederhana yang dapat dipergunakan diberbagai tempat, misalnya :
a.       Di rumah tangga, seperti leaflet, model buku bergambar, benda-benda yang nyata seperti buah-buahan, sayur-sayuran, dan sebagainya.
b.      Di masyarakat umum, misalnya poster, spanduk, leaflet, flannel graph, boneka wayang, dan sebagainya.
2.      Ciri alat peraga sederhana
Ciri-ciri alat peraga kesehatan yang sederhana antara lain :
a.       Mudah dibuat
b.      Bahan-bahannya dapat diperoleh dari bahan-banahn local
c.       Mencerminkan kebiasaan, kehidupan, dan kepercayaan setempat
d.      Ditulis (digambar) dengan sederhana
e.       Memakai bahasa setempat dan mudah dimengerti oleh masyarakat
f.       Memenuhi kebutuhan-kebutuhan petugas kesehatan dan masyarakat
4.      Sasaran yang Dicapai Alat Bantu Promosi (Pendidikan)
Menggunakan alat peraga harus didasari pengetahuan tentang sasaran pendidikan yang akan dicapai alat peraga tersebut.
a.       Yang perlu diketahui tentang sasarn antara lain :
1.      Individu atau kelompok
2.      Kategori-kategori sasaran seperti kelompok umur, pendidikan, pekerjaan, dan sebagainya
3.      Bahasa yang mereka gunakan
4.      Adat-istiadat serta kebiasaan
5.      Minat dan perhatian
6.      Pengetahuan dan pengalaman mereka tentang pesan yang akan diterima
b.      Tempat memasang (menggunakan) alat-alat peraga.
1.      Di dalam keluarga, antara lain di dalam kesempatan kunjungan rumah, waktu menolong persalinan dan menolong bayi, atau menolong orang sakit dan sebagainya
2.      Dimasyarakat, misalnya pada waktu perayaan hari-hari besar
c.       Alat-alat peraga tersebut sedapat mungkin dapat diperguanakan oleh :
1.      Petugas-petugas puskesmas/kesehatan
2.      Kader kesehatan
3.      Guru-guru sekolah dan tokoh-tokoh masyarakat lainnya.
4.      Pamong desa
5.      Merencanakan dan Menggunakan Alat Peraga.
Biasanya kita menggunakan alat peraga sebagai pengganti objek-objek yang nyata sehingga dapat memberikan pengalaman yang tidak langsung bagi sasaran.
Untuk memperjelas pesan-pesan yang disampaikan kepada masyarakat, sebenarnya banyak benda yang dapat mempermudah masyarakat untuk mengerti serta memahami pesan-pesan, karena alat peraga seperti ini merupakan benda-benda yang mereka jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu sebelum mempergunakan alat peraga lain sebagai pengganti benda-benda asli maka perlu ditelaah terlebih dahulu apakah mungkin dipergunakan benda-benda asli. Sebaliknya, kalau tidak ada benda-benda asli, maka dibuatlah alat peraga dari benda-benda pengganti.
Sebelum membuat alat peraga, kita harus merencanakan dan memilih alat peraga yang paling penting dan tepat untuk digunakan. Untuk itu perlu diperhatikan antara lain hal-hal sebagai berikut.
Tujuan yang hendak dicapai :
1.      Tujuan pendidikan
a.       Menanamkan pengetahuan atau pengertian, pendapat dan konsep-konsep.
b.      Mengubah sikap dan persepsi.
c.       Menanamkan tingkah laku atau kebiasaan yang baru.
2.      Tujuan penggunaan alat peraga
Alat peraga yang dapat digunakan yaitu:
a.       Sebagai alat bantu dalam latihan atau penataran, atau pendidikan.
b.      Untuk menimbulkan perhatian terhadap suatu masalah
c.       Untuk mengingatkan suatu pesan atau informasi
d.      Untuk menjelaskan fakta-fakta, prosedur, tindakan.
Perencanaan dan pemilihan alat peraga ditentukan sebagian besar oleh tujuan ini.
Kalau tujuan yang hendak dicapai rumit, maka mungkin diperlukan lebih dari satu macam alat peraga. Kemampuan penyampaian pesan masing-masing alat peraga berbeda-beda. Misalnya, leaflet da pamphalets lebih banyak berisi pesan, sedangkan poster lebih sedikit mengandung pesan tetapi lebih bersifat pemberitahuan dan propaganda.
Dengan sendirinya alat peraga yang digunakan untuk meningkatnkan pengetahuan akan berbeda dengan alat peraga yang dipergunakan untuk meningkatkan keterampilan.
6.      Persiapan Penggunaan Alat Peraga.
Semua alat peraga yang dibuat, berguna sebagai alat bantu belajar. Tetapi harus diingat bahwa alat ini dapat berfungsi sebagai alat belajar dengan sendirinya. Kita harus mengembangkan keterampilan dalam memilih dan mengadakan alat peraga secara tepat sehingga akan mendapatkan hasil yang maksimal.
Misalnya, satu set flash card tentang makanan sehat untuk bayi atau anak-anak harus diperlihatkan satu persatu secara berurutan sambil menerangkan tiap-tiap gambar beserta pesannya.
Kemudian diadakan pembahasan sesuai dengan kebutuhan pendengarnya agar terjadi komunikasi dua arah. Apabila kita tidak mempersiapkan diri dan hanya mempertunjukkan lembaran-lembaran flash card satu demi satu tanpa menerangkan atau membahasnya, maka penggunaan flash card tersebut mungkin akan gagal.
Sebelum menggunakan alat peraga sebaiknya petugas mencoba terlebih dahulu alat-alat yang masih dalam bentuk kasar atau draft, sebelum diproduksi seluruhnya. Test ini berguna untuk mengetahui sejauh mana alat peraga tersebut dapat dimengerti oleh sasaran pendidikan.
Contoh, dibuat desain atau rancangan sebuah poster yang akan digunakan untuk menunjang program keluarga berencana. Desain ini lalu dicobakan pada kelompok kecil sasaran yang dianggap mempunyai cirri-ciri yang sama dengan sasaran pada umumnya, yakni kepada siapa poster ini nantinya akan ditujukan. Jika terdapat salah satu desain yang paling mudah dipahami, terutama yang dapat dikenali pesan-pesannya dengan baik, maka itulah yang akan diproduksi dan diperbanyak.
Cara melakukan test tersebut antara lain sebagai berikut :
a.       Merencanakan terlebih dahulu test pendahuluan untuk suatu media yang akan diproduksi.
b.      Menentukan pokok-pokok yang akan dipesankan dalam media tersebut.
c.       Menentukan gambar-gambar pokok atau symbol-simbol yang disesuaikan dengan cirri-ciri sasaran.
d.      Memperlihatkan alat peraga/media tesebut kepada sasaran tercoba.
e.       Memperlihatkan kepada sasaran tercoba
-          Apakah mereka mengalami kesukaran dalam memahami pesan-pesan, kata-kata dan gambar-gambar di dalam media tersebut
-          Menanyakan hal-hal yang tidak dimengerti
-          Mencatat komentar-komentar dari sasaran tercoba
-          Melakukan perbaikan alat peraga (media) tersebut
f.       Mendiskusikan alat yang dibuat tersebut dengan orang lain (teman-teman) atau dengan para ahli.
7.      Cara Menggunakan alat Peraga
Cara mempergunakan alat peraga sangat tergantung pada jenis alatnya. Menggunakan alat peraga gambar sudah tentu berbeda dengan menggunakan film strip dan sebagainya. Di samping itu juga dipertimbangkan faktor sasarn pendidikannya. Untuk masyarakat yang buta huruf akan berbeda dengan masyarakat yang telah berpendidikan. Dan yang lebih penting adalah bahwa alat yang digunakan harus menarik sehingga menimbulkan minat para pesertanya. Pada waktu menggunakan AVA hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a.       Senyum adalah lebih baik, untuk mencari simpati
b.      Tunjukkan perhatian bahwa hal yang akan dibicarakan/dipergunakan itu adalah penting
c.       Pandangan mata hendaknya ke seluruh pendengar agar mereka tidak kehilangan control pihak pendidik
d.      Gaya bicara hendaknya bervariasi agar pendengar tidak bosan dan tiodak mengantuk
e.       Ikut sertakan para peserta/pendengar dan berikan kesempatan untuk memegang dan atau mencoba alat-alat tersebut
f.       Bila perlu berilah selingan humor, guna menghidupkan suasana dan sebagainya
8.      Media promosi kesehatan
Yang dimaksud dengan media promosi kesehatan pada hakikatnya adalah alat bantu pendidikan (AVA) seperti telah diuraikan di atas. Disebut media promosi kesehatan karena alat-alat tersebut merupakan saluran (channel) untuk menyampaikan informasi kesehatan dan karena alat-alat tersebut digunakan untuk mempermudah penerimaan pesan-pesan kesehatan bagi masyarakat atau klien. Berdasarkan fungsinya sebagai penyalur pesan-pesan kesehatan, media ini dibagi menjadi 3, yakni media cetak, media elektronik, dan media papan.
a.       Media Cetak
Media cetak sebagai alat bantu menyampaikan pesan-pesan kesehatan sangat bervariasi, antara lain sebagai berikut :
1.      Booklet, ialah suatu media untuk menyampaikan pesan-pesan kesehatan dalam bentuk buku, baik berupa tulisan maupun gambar.
2.      Leaflet, ialah bentuk penyampaian informasi atau pesan-pesan kesehatan melalui lembaran yang dilipat. Isi informasi dapat dalam bentuk kalimat maupun gambar atau kombinasi.
3.      Flyer (selebaran), bentuknya seperti leaflet, tetapi tidak berlipat.
4.      Flif chart (lembar balik), media penyampaian pesan atau informasi kesehatan dalam bentuk lembar balik. Biasanya dalam bentuk buku dimana tiap lembar (halaman) berisi gambar peragaan dan lembar baliknya berisi kalimat sebagai pesan atau informasi yang berkaitan dengan gambar tersebut.
5.      Rubrik atau tulisan-tulisan pada surat kabar atau majalah yang membahas suatu masalah kesehatan, atau hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan.
6.      Poster ialah bentuk media cetak yang berisi pesan atau informasi kesehatan, yang biasanya ditempel di tembok-tembok, di tempat-tempat umum, atau di kendaraan umum.
7.      Foto yang mengungkapkan informasi kesehatan.
b.      Media Elektronik
Media elektronok sebagai sasaran untuk menyampaikan pesan-pesan atau informasi kesehatan berbeda-berbeda jenisnya antara lain :
-          Televisi
Penyampaian pesan atau informasi kesehatan melalui media televisi dapat dalam bentuk sandiwara, sinetron, forum diskusi, atau tanya jawab sekitar masalah  kesehatan, pidato (ceramah), TV spot, kuis/cerdas cermat, dan sebagainya.
-          Radio
Penyampaian informasi atau pesan-pesan kesehatan melalui radio juga dapat bermacam-macam bentuknya antara lain obrolan (tanya jawab), sandiwara radio, ceramah, radio spot, dan sebagainya.
-          Video
Penyampaian informasi atau pesan-pesan kesehatan dapat melalui video.
-          Slide
Slide juga dapat digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi-informasi kesehatan
-          Film strip
Film strip juga dapat digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan kesehatan

c.       Media Papan (Billboard)
Papan atau billboard yang dipasang di tempat-tempat umum dapat diisi dengan pesan-pesan atau informasi-informasi kesehatan. Media papan disini juga mencakup pesan-pesan yang ditulis pada lembaran seng yang ditempel pada kendaraan-kendaraan umum ( bus dan taksi).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar