Belajar yang rajin, Bekerja, Berkarya, dan Bermanfaat untuk sesama! Percayalah, tidak ada hal yang sia-sia. Semoga Tuhan memudahkan jalan kita dalam menuntut dan mengamalkan ilmu. Aamiin... :D

Rabu, 11 Juli 2012

PEMBERITAHUAN IBU HAMIL UNTUK BERSALIN DI TENAGA KESEHATAN (PROMOSI BIDAN SIAGA)


ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS
PEMBINAAN DUKUN BAYI


PEMBERITAHUAN IBU HAMIL UNTUK BERSALIN DI TENAGA KESEHATAN  (PROMOSI BIDAN SIAGA)

PEMBIMBING :
ASRIYA NARO, SST


INSTITUT ILMU KESEHATAN BHAKTI WIYATA KEDIRI
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
PRODI DIII KEBIDANAN
TAHUN 2012



ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS
PEMBINAAN DUKUN BAYI


PEMBERITAHUAN IBU HAMIL UNTUK BERSALIN DI TENAGA KESEHATAN  (PROMOSI BIDAN SIAGA)








OLEH :

1.     Devita Hasta K.        30710005
2.     Eka Karlina               30710010
3.     Elok Vivin R.            30710011
4.     Eva Try Y                 30710012
5.     Ira Nofiati                 30710020
6.     Tri Widayanti           30710035

INSTITUT ILMU KESEHATAN BHAKTI WIYATA KEDIRI
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
PRODI DIII KEBIDANAN
TAHUN 2012




KATA PENGANTAR


Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan hidayah yang telah diberikan sehingga penyusunan makalah ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS ini dapat kami selesaikan tepat pada waktunya.
Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada ibu Asriya Naro, S. ST selaku dosen pembimbing dalam penyusunan makalah ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS ini yang merupakan tugas semester yang harus kami selesaikan.
Kami menyadari masih banyak kekurangan yang terkandung di dalamnya baik berupa penulisan serta isi. Untuk itu kami mengharap saran yang membangun dari pembaca sebagai penyempurnaan dari makalah yang kami susun. Semoga makalah ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS ini bermanfaat bagi pembaca.


Kediri, 28 Juni 2012


Penyusun









BAB I
PENDAHULUAN


1.1              Latar Belakang
Tingginya angka kematian ibu dan bayi menunjukkan masih rendahnya kualitas pelayanan kesehatan. Delapan puluh persen (80%) persalinan di masyarakat masih di tolong oleh tenaga non-kesehatan, seperti dukun. Dukun di masyarakat masih memegang peranan penting, dukun di anggap sebagai tokoh masyarakat.
Masyarakat masih mempercayakan pertolongan persalinan oleh dukun, karena pertolongan persalinan oleh dukun dianggap murah dan dukun tetap memberikan pendampingan pada ibu setelah melahirkan, seperti merawat dan memandikan bayi. Untuk mengatasi permasalahan persalinan oleh dukun, pemerintah membuat suatu terobosan dengan melakukan kemitraan dukun dan bidan. Salah satu bentuk kemitraan tersebut adalah dengan melakukan pembinaan dukun.
Upaya meminimalisasi dan menurunkan tingkat kematian ibu hamil, bayi dan balita maka semua persalinan yang ditangani oleh dukun bayi harus beralih ditangani oleh bidan. Kecuali hal-hal yang berhubungan dengan adat dan kebiasaan setempat dengan menjalin hubungan antara dukun dan bidan, tetapi kemitraan yang berjalan saat ini masih dalam batas pemaknaan transfer ilmu pengetahuan, serta masih dalam bentuk pembinaan cara-cara persalinan yang higienis kepada dukun bayi.
Salah satu kasus kesehatan yang masih banyak terjadi di Indonesia adalah persalinan dengan pertolongan oleh dukun bayi. Kenyataannya, hampir semua masyarakat Indonesia baik itu yang tinggal di pedesaan maupun perkotaan lebih senang ditolong oleh dukun. Hal tersebut disebabkan oleh tradisi dan adat istiadat setempat. Dan cara atau strategi untuk membangun cohesive network di antara para pemuka setempat, masyarakat, dukun dan bidan dalam melaksanakan pelayanan kesehatan maternal dan perinatal secara bersama-sama. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif.
Teknik yang digunakan adalah wawancara mendalam. Informan yang dipilih adalah dukun bayi, bidan, ibu yang melahirkan dengan pertolongan dukun bayi dan ibu yang melahirkan dengan pertolongan bidan. (Rita Yulifah, Tri Johan Agus Y. 2009 : 131)

1.2              Rumusan Masalah
1.2.1        Pengertian promosi bidan siaga.
1.2.2        Pengertian dan pembagian dukun bayi.
1.2.3        Tujuan serta upaya pembinaan dukun bayi.
1.2.4        Peran dukun bayi dalam memberikan promosi kesehatan pada ibu hamil untuk bersalin dengan tenaga kesehatan.
1.2.5        Langkah-langkah pembinaan dukun bayi.
1.2.6        Hambatan-hambatan dalam pembinaan dukun bayi.


1.3              Tujuan
1.3.1        Tujuan Umum
Mengembangkan pengetahuan tentang Askeb V Kebidanan Komunitas, khususnya pada pembahasan tentang pembinaan dukun bayi, pemberitahuan ibu hamil untuk bersalin di tenaga kesehatan (promosi bidan siaga).
1.3.2        Tujuan Khusus
1.3.2.1  Memahami pengertian promosi bidan siaga.
1.3.2.2  Mengetahui pengertian dan pembagian dukun bayi.
1.3.2.3  Menjelaskan tentang tujuan serta upaya pembinaan dukun bayi.
1.3.2.4  Memberikan promosi kesehatan pada ibu untuk bersalin dengan tenaga kesehatan.
1.3.2.5  Mengetahui langkah-langkah pembinaan dukun bayi.
1.3.2.6  Mengetahui hambatan-hambatan dalam pembinaan dukkun bayi.







BAB II
PEMBAHASAN

2.1            Promosi Bidan Siaga
Promosi adalah suatu usaha dari pemasar dalam menginformasikan dan mempengaruhi orang atau pihak lain sehingga tertarik untuk melakukan transaksi atau pertukaran produk barang atau jasa yang dipasarkannya. (Rita Yulifah, Tri Johan Agus Y. 2009 : 133)
Promosi Kesehatan adalah proses memberdayakan atau memandirikan masyarakat untuk memelihara, meningkatkan, dan melindungi kesehatannya melalui peningkatan kesadaran, kemampuan, dan kemauan, serta pengembangan lingkungan sehat. Sasaran promosi kesehatan adalah individu, keluarga, masyarakat, dan petugas pelaksana program. (Syafrudin, 2009 :192)
Bidan adalah seseorang yang telah menyelesaikan program pendidikan bidan yang diakui oleh negara serta memperoleh kodifikasi dan diberi izin untuk menjalankan praktek kebidanan wilayah itu. (Rita Yulifah, Tri Johan Agus Y. 2009 : 133)
Bidan siaga adalah seorang bidan yang telah dipercaya dan diberi kepercayaan yang lebih dari pemerintah/ negara untuk membantu masyarakat.  (Rita Yulifah, Tri Johan Agus Y. 2009 : 133)
Promosi Bidan Siaga merupakan salah satu cara untuk melakukan promosi bidan siaga, yaitu dengan melakukan pendekatan dengan dukun bayi yang ada di desa untuk bekerja sama dalam pertolongan persalinan. Bidan dapat memberikan imbalan jasa yang sesuai apabila dukun menyerahkan ibu hamil untuk bersalin ke tempat bidan. Dukun bayi dapat dilibatkan dalam perawatan Bayi Baru Lahir ( BBL). (Rita Yulifah, Tri Johan Agus Y. 2009 : 133)
Apabila cara tersebut dapat dilakukan dengan baik, maka dengan kesadaran, dukun akan memberitahukan ibu hamil untuk melakukan persalinan di tenaga kesehatan ( bidan ). Ibu dan bayi selamat, derajat kesehatan ibu dan bayi diwilayah tersebut semakin meningkat. (Rita Yulifah, Tri Johan Agus Y. 2009 : 133)
2.2            Profil Dukun Bayi
2.2.1         Pengertian Dukun Bayi
Dukun bayi adalah orang yang dianggap terampil dan dipercaya oleh masyarakat untuk menolong persalinan dan perawatan ibu dan anak sesuai kebutuhan masyarakat. (Dep Kes RI. 1994 : 2)
Dukun bayi adalah seorang anggota masyarakat yang pada umumnya adalah seorang wanita yang mendapat kepercayaan serta memiliki ketrampilan menolong persalinan secara tradisional. Ketrampilan tersebut diperoleh secara turun temurun, belajar secara praktis atau cara lain yang menjurus kearah peningkatan ketrampilan serta melalui tenaga kesehatan. Dukun bayi juga merupakan seseorang yang dianggap terampil dan dipercaya oleh mayarakat untuk menolong persalinan dan perawatan ibu dan anak sesuai dengan kebutuhan masyarakat. (Meilani, Niken dkk. 2009:134)
Seperti diketahui, dukun bayi adalah merupakan sosok yang sangat dipercaya di kalangan masyarakat. Mereka memberikan pelayanan khususnya bagi ibu hamil samapi dengan nifas secara sabar. Apabila pelayanan selesai mereka lakukan, sangat diakui oleh masyarakat bahwa mereka memiliki tarif pelayanan yang jauh lebih murah dibandingkan bidan. Umumnya masyarakat merasa nyaman dan tenang bila persalinannya ditolong oleh dukun bayi atau lebih dikenal dengan bidan di kampong, akan tetapi ilmu kebidanan yang dimiliki oleh dukun bayi tersebut sangat terbatas karena didapatkan secara turun temurun (tidak berkembang). (Meilani, Niken dkk. 2009: 134)
2.2.2         Pembagian Dukun Bayi
Pembagian dukun bayi, Menurut Depkes RI, dukun bayi dibagi menjadi 2 yaitu :
2.2.2.1      Dukun Bayi Terlatih, adalah dukun bayi yang telah mendapatkan pelatihan oleh tenaga kesehatan yang dinyatakan lulus.
2.2.2.2      Dukun Bayi Tidak Terlatih, adalah dukun bayi yang belum pernah terlatih oleh tenaga kesehatan atau dukun bayi yang sedang dilatih dan belum dinyatakan lulus.
(http://wwwfitry.blogspot.com/2011/02/pembinaan-dukun-bayi.html:23-04-2012: 10 :10)

2.2.3         Pembinaan Dukun Bayi
Pembinaan adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang, masyarakat, pemerintah dalam rangka meningkatkan ketrampilan dan mempersempit kewenangan sesuai dengan fungsi dan tugasnya. (Ambarwati, Eny. 2009:135)
Kemitraan adalah kerjasama yang didasarkan atas kesepakatan-kesepakatan bersama antara beberapa pihak yang terkait.  (Ambarwati, Eny. 2009:135)
Pembinaan dukun adalah suatu pelatihan yang di berikan kepada dukun bayi oleh tenaga kesehatan yang menitikberatkan pada peningkatan pengetahuan dukun yang bersangkutan, terutama dalam hal higiene sanitasi, yaitu mengenai kebersihan alat – alat persalinan dan perawatan bayi baru lahir, serta pengetahuan tentang perawatan kehamilan , deteksi dini terhadap risiko tinggi pada ibu dan bayi, KB, gizi serta pencatatan kelahiran dan kematian. (Rita Yulifah, Tri Johan Agus Y. 2009 : 132)
Pembinaan dukun merupakan salah satu upaya menjalin kemitraan antara tenaga kesehatan (bidan) dan dukun dengan tujuan menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Supervise / pembinaan adalah bimbingan teknis yang terus menerus dan berkesinambungan untuk mencapai suatu tujuan.
Menjangkau 2 aspek, yaitu: pembinaan ketrampilan dukun bayi dan pembinaan hasil kegiatan yang dilaksanan oleh dukun bayi.
(Rita Yulifah, Tri Johan Agus Y. 2009 : 132)

2.2.3.1      Tujuan Pembinaan Dukun Bayi
Untuk meningkatkan status dukun, maka di lakukan upaya pelatihan dan pembinaan dukun dengan tujuan :
2.2.3.1.1        Agar mereka memiliki pengetahuan dan ide baru yang dapat di sampaikan dan diterima oleh anggota masyarakat.
2.2.3.1.2        Memperbesar peran dukun bayi dalam program KB dan pendidikan kesehatan di berbagai aspek kesehatan reproduksi dan kesehatan anak.
2.2.3.1.3        Untuk memperbaiki kegiatan – kegiatan yang sebenarnya sudah dilakukan oleh dukun, seperti memberikan, saran tentang kehamilan, melakukan persalinan bersih dan aman, serta mengatasi masalah yang mungkin muncul pada saat persalinan, sehingga angka kematian ibu dan bayi dapat dikurangi atau di cegah sedini mungkin.

2.2.3.2           Manfaat Pembinaan dan Kemitraan Dukun Bayi
2.2.3.2.1        Meningkatkan mutu ketrampilan dukun bayi dalam memberikan pelayanan sesuai dengan tugas dan fungsinya.
2.2.3.2.2        Meningkatkan kerjasama antara dukun bayi dan bidan.
2.2.3.2.3        Meningkatkan cakupan persalinan dengan petugas kesehatan.
(Ambarwati, Eny. 2009:136)

2.2.3.3           Upaya Pembinaan Dukun Bayi
Masyarakat masih menganggap dukun sebagai tokoh masyarakat yang patut di hormati, memiliki peranan penting bagi ibu – ibu di desa. Oleh karena itu, di butuhkan upaya agar bidan dapat melakukan pembinaan dukun. Beberapa upaya yang dapat di lakukan bidan di antaranya adalah :
2.2.3.3.1        Melakukan pendekatan dengan para tokoh masyarakat setempat.
2.2.3.3.2        Melakukan pendekatan dengan para dukun.
2.2.3.3.3        Memberikan pengetahuan kepada para dukun tentang pentingnya persalinan yang bersih dan aman.
2.2.3.3.4        Memberi pengetahuan kepada para dukun tentang komplikasi – komplikasi kehamilan dan bahaya proses persalinan.
2.2.3.3.5        Membina kemitraan denga dukun dengan memegang asas saling menguntungkan.
2.2.3.3.6        Menganjurkan dan mengajak dukun merujuk kasus – kasus risiko tinggi kehamilan kepada tenaga kesehatan.

2.2.3.4      Pelaksanaan, Tempat , dan Waktu Pembinaan Dukun Bayi
Pelaksana supervisi / bimbingan / pembinaan antara lain: dokter, bidan, perawat kesehatan, petugas imunisasi, petugas gizi.
Tempat pelaksanaan pembinaan dukun bayi dapat dilakukan di posyandu pada hari buka oleh petugas / pembina posyandu atau pada perkumpulan dukun bayi dilaksankan di puskesmas.
Waktu pelaksanaan pembinaan dukun bayi, yaitu:
a.       Saat kunjungan supervisi petugas puskesmas di posyandu di desa tempat tinggal dukun.
b.      Pertemuan rutin yang telah disepakat
c.       Waktu-waktu lain saat petugas bertemu dengan dukun bayi.
d.      Saat mendampingi dukun bayi waktu menolong persalinan
(Rita Yulifah, Tri Johan Agus Y. 2009 : 133)

2.2.4            Klasifikasi Materi Pembinaan Dukun Bayi
2.2.4.1      Promosi Bidan Siaga
Promosi Bidan Siaga merupakan salah satu cara untuk melakukan promosi bidan siaga, yaitu dengan melakukan pendekatan dengan dukun bayi yang ada di desa untuk bekerja sama dalam pertolongan persalinan. Bidan dapat memberikan imbalan jasa yang sesuai apabila dukun menyerahkan ibu hamil untuk bersalin ke tempat bidan. Dukun bayi dapat dilibatkan dalam perawatan Bayi Baru Lahir ( BBL). (Rita Yulifah, Tri Johan Agus Y. 2009 : 133)
Apabila cara tersebut dapat dilakukan dengan baik, maka dengan kesadaran, dukun akan memberitahukan ibu hamil untuk melakukan persalinan di tenaga kesehatan ( bidan ). Ibu dan bayi selamat, derajat kesehatan ibu dan bayi diwilayah tersebut semakin meningkat. (Rita Yulifah, Tri Johan Agus Y. 2009 : 133)

2.2.4.2           Peran Dukun Paraji
2.2.4.2.1        Membantu bidan dalam merencanakan kunjungan ke posyandu kelompok ibu atau KPKIA.
2.2.4.2.2        Mendampingi bidan dalam melaksanakan kunjungan.
2.2.4.2.3        Memberikan masukan tentang kebutuhan masyarakat akan kunjungan dan materi pelatihan atau penyuluhan.
2.2.4.2.4        Memberikan penyuluhan tentang :
2.2.4.2.4.1  Kebersihan atau kesehatan secara umum.
2.2.4.2.4.2  Kesiapan dalam menghadapi kehamilan.
2.2.4.2.4.3   Makanan bergizi dan pencegahan anemia.
2.2.4.2.4.4  Kematangan seksual, dan kehidupan seksual yang bertanggung jawab.
2.2.4.2.4.5  Bahaya kehamilan pada usia muda.
2.2.4.2.4.6  Perencanaan keluarga sehat sejahtera (KB).
Salah satu cara untuk melakukan promosi bidan siaga, yaitu dengan melakukan pendekatan dengan dukun bayi yang ada di desa untuk bekerja sama dalam pertolongan persalinan. Bidan dapat memberikan imbalan jasa yang sesuai apabila dukun menyerahkan ibu hamil untuk bersalin ke tempat bu bidan. Dukun bayi dapat di libatkan dalam perawatan bayi baru lahir.
(Rita Yulifah, Tri Johan Agus Y. 2009 : 133)

2.2.4.3      Peran Dukun Bayi dalam Memberikan Promosi Kesehatan pada Ibu Hamil untuk Bersalin dengan Tenaga Kesehatan
2.2.4.3.1        Dukun bayi mampu memberikan penyuluhan promosi kesehatan tentang tanda bahaya selama kehamilan.
2.2.4.3.2        Dukun bayi mampu memberikan penyuluhan promosi kesehatan tentang ketidaknyamanan selama kehamilan serta cara mengatasinya.
2.2.4.3.3        Dukun bayi mampu memberi penyuluhan promosi kesehatan tantang pentingnya menjaga personal hygiene.
2.2.4.3.4        Dukun bayi mampu memberikan penyuluhan tentang pentingnya tablet Fe pada ibu hamil yang anemia, atas pengawasan bidan.
2.2.4.3.5        Dukun bayi mampu mendeteksi dini resiko persalinan dengan harapan dapat membantu tenaga kesehatan untuk membantu resiko persalinan yang terjadi.
2.2.4.3.6        Dukun bayi dapat memberikan penyuluhan promosi kesehatan dengan memotivasi ibu hamil agar bersalin dengan tenaga kesehatan.
2.2.4.3.7        Dukun bayi mampu memberikan penyuluhan promosi kesehatan tentang tanda bahaya persalinan.
2.2.4.3.8        Dukun bayi dapat memberikan penyuluhan promosi kesehatan pada ibu hamil untuk persiapan persalinanan.
2.2.4.3.9        Dukun bayi mampu memberi penyuluhan promosi kesehatan tentang cara mengejan yang baik saat bersalin.
2.2.4.3.10    Dukun bayi mampu memberikan penyuluhan promosi kesehatan tentang pentingnya perawatan payudara.
2.2.4.3.11    Dukun bayi mampu memberikan penyuluhan promosi kesehatan untuk pemberian ASI Eksklusif segera setelah persainan.
2.2.4.3.12    Dengan memberi penyuluhan dan promosi kesehatan diharapkan dukun bayi mampu meningkatkan harapan hidup ibu dan bayi.
(Rita Yulifah, Tri Johan Agus Y. 2009 : 133)

2.2.4.4           Langkah-Langkah Pembinaan Dukun Bayi
Pembinaan dukun di lakukan dengan memperhatikan kondisi, adat, dan peraturan dari masing – masing daerah atau dukun berasal, karena tidaklah mudah mengajak seorang dukun untuk mengikuti pembinaan.
Beberapa langkah yang dapat di lakukan bidan dalam pembinaan dukun adalah sebagai berikut :
2.2.4.4.1   Meminta bantuan pamong desa untuk memotivasi dukun bayi agar bersedia mengikuti pelatihan – pelatihan dukun yang di selenggarakan.
2.2.4.4.2   Mengajak dukun bayi yang sudah di latih untuk ikut serta memberikan penyuluhan dan membantu melakukan deteksi dini ibu risiko tinggi di posyandu maupun pada kegiatan – kegiatan yang ada di masyarakat. (Rita Yulifah, Tri Johan Agus Y. 2009 : 132 - 133)

2.2.4.5           Hambatan-Hambatan Pembinaan Dukun Bayi
Hambatan – hambatan yang sering di jumpai dalam melakukan pembinaan dukun di masyarakat di antaranya adalah sebagai berikut:
2.2.4.5.1   Sikap Dukun yang Kurang Kooperatif
Faktor yang menyebabkan sikap dukun tidak kooperatif adalah adanya perasaan malu apabila di latih oleh bidan, dukun merasa tersaingi oleh bidan, dan dukun terlalu idealis dengan cara pertolongan persalinan yang di lakukan.
Solusi :
Informasikan dan tekankan kepada dukun bahwa pembinaan yang di lakukan bukan untuk melakukan perubahan metode atau kebiasaan yang di lakukan oleh dukun dalam melakukan pertolongan persalinan atau untuk bersaing. Akan tetapi, pembinaan yang di lakukan bertujuan untuk memberikan suatu pemahaman baru dalam pelayanan kebidanan. Bidan harus mengajak dukun untuk bekerja sama dengan cara memberikan imbalan sebagai ucapan terima kasih. Libatkan dukun dalam perawatan bayi baru lahir, misalnya memandikan bayi.
2.2.4.5.2   Kultur yang Kuat
Sosial budaya mengenai dukun yang merupakan hambatan dalam upaya pembinaan dukun adalah sebagai berikut :
2.2.4.5.2.1  Dukun bayi biasanya adalah orang yang di kenal masyarakat setempat.
2.2.4.5.2.2  Kepercayaan masyarakat terhadap dukun di peroleh secara turun temurun.
2.2.4.5.2.3  Dukun bayi masih memiliki peranan penting bagi perempuan di pedesaan.
2.2.4.5.2.4  Biaya pertolongan persalinan dukun jauh lebih murah daripada tenaga kesehatan.
2.2.4.5.2.5  Pelayanan dukun di lakukan sampai ibu selesai masa nifas.
2.2.4.5.2.6  Masyarakat masih terbiasa dengan cara – cara tradisional.
Solusi :
Lakukan berbagai metode pendekatan dengan tokoh – tokoh masyarakat, misalnya pamong desa, para petua – petua desa, tokoh agama yang sangat berpengaruh pada pola pikir masyarakat dengan memberikan penjelasan pentingnya pembinaan dukun, sehingga tokoh – tokoh masyarakat dapat melakukan advokasi kepada masyarakat, dan dapat memperbaiki kebudayaan yang melekat pada diri masyarakat yang dapat merugikan kesehatan terutama kesehatan ibu dan bayi.
2.2.4.5.3        Sosial Ekonomi
Masyarakat denagn sosial ekonomi rendah atau miskin dengan pendidikan yang rendah cenderung mencari pertolongan persalinan pada dukun. Masyarakat yang demikian beranggapan bahwa dukun adalah seorang pahlawan, karena melahirkan di dukun lebih murah, dukun bersedia di bayar dengan barang, dan pembayarannya dapat di angsur.
Solusi:
Sosialisasikan atau apabila di butuhkan musyawarahkan dengan masyarakat tentang biaya persalinan di tenaga kesehatan (bidan). Bidan harus dapat bekerja sama dengan masyarakat mengenai persalinan, berdayakan masyarakat dalam upaya meningkatkan kesehatan ibu dan bayi dengan pertolongan persalinan di tenaga kesehatan. Bidan dapat bekerja sama dengan masyarakat untuk melakukan pemetaan ibu hamil, membentuk tabungan ibu bersalin (Tabulin), donor darah berjalan, dan ambulan desa.
2.2.4.5.4   Tingkat pendidikan
Kebanyakan di masyarakat, dukun adalah orang tua yang harus di hormati dan mempunyai latar belakang pendidikan rendah. Oleh karena dukun memliki latar belakang pendidikan rendah, sehingga tidak jarang dukun sulit untuk menerima pemahaman dan pengetahuan baru.
Solusi:
Bidan harus memiliki ketrampilan komunikasi interpersonal dan memahami tradisi setempat untuk melakukan pendekatan dan pembinaan ke dukun – dukun. Lakukan pendekatan sesuai dengan tingkat pendidikan dukun, sehingga mereka dapat memahami dan menerima pengetahuan serta pemahaman baru khususnya mengenai kehamilan, persalinan, nifas, dan bayi baru lahir.
(Rita Yulifah, Tri Johan Agus Y. 2009 : 136 - 138)









BAB III
PENUTUP


3.1        Kesimpulan
Dukun bayi adalah orang yang dianggap terampil dan dipercaya oleh masyarakat untuk menolong persalinan dan perawatan ibu dan anak sesuai kebutuhan masyarakat. (Dep Kes RI. 1994 : 2).
Tujuan pembinaan adalah untuk meningkatkan status dukun, maka di lakukan upaya pelatihan dan pembinaan dukun dengan tujuan : Agar mereka memiliki pengetahuan dan ide baru yang dapat di sampaikan dan diterima oleh anggota masyarakat,            memperbesar peran dukun bayi dalam program KB dan pendidikan kesehatan di berbagai aspek kesehatan reproduksi dan kesehatan anak, untuk memperbaiki kegiatan – kegiatan yang sebenarnya sudah dilakukan oleh dukun, seperti memberikan, saran tentang kehamilan, melakukan persalinan bersih dan aman, serta mengatasi masalah yang mungkin muncul pada saat persalinan, sehingga angka kematian ibu dan bayi dapat dikurangi atau di cegah sedini mungkin. (Rita Yulifah, Tri Johan Agus Y. 2009 :133).
Promosi Bidan Siaga merupakan salah satu cara untuk melakukan promosi bidan siaga, yaitu dengan melakukan pendekatan dengan dukun bayi yang ada di desa untuk bekerja sama dalam pertolongan persalinan. Bidan dapat memberikan imbalan jasa yang sesuai apabila dukun menyerahkan ibu hamil untuk bersalin ke tempat bidan. Dukun bayi dapat dilibatkan dalam perawatan Bayi Baru Lahir ( BBL).
Peran Dukun Bayi dalam Memberikan Promosi Kesehatan pada Ibu Hamil untuk Bersalin dengan Tenaga Kesehatan:
a.         Dukun bayi mampu memberikan penyuluhan promosi kesehatan tentang tanda bahaya selama kehamilan.
b.         Dukun bayi mampu memberikan penyuluhan promosi kesehatan tentang ketidaknyamanan selama kehamilan serta cara mengatasinya.
c.         Dukun bayi mampu memberi penyuluhan promosi kesehatan tantang pentingnya menjaga personal hygiene.
d.         Dukun bayi mampu memberikan penyuluhan tentang pentingnya tablet Fe pada ibu hamil yang anemia, atas pengawasan bidan.
e.         Dukun bayi mampu mendeteksi dini resiko persalinan dengan harapan dapat membantu tenaga kesehatan untuk membantu resiko persalinan yang terjadi.
f.          Dukun bayi dapat memberikan penyuluhan promosi kesehatan dengan memotivasi ibu hamil agar bersalin dengan tenaga kesehatan.
g.         Dukun bayi mampu memberikan penyuluhan promosi kesehatan tentang tanda bahaya persalinan.
h.         Dukun bayi dapat memberikan penyuluhan promosi kesehatan pada ibu hamil untuk persiapan persalinanan.
i.           Dukun bayi mampu memberi penyuluhan promosi kesehatan tentang cara mengejan yang baik saat bersalin.
j.           Dukun bayi mampu memberikan penyuluhan promosi kesehatan tentang pentingnya perawatan payudara.
k.         Dukun bayi mampu memberikan penyuluhan promosi kesehatan untuk pemberian ASI Eksklusif segera setelah persainan.
l.            Dengan memberi penyuluhan dan promosi kesehatan diharapkan dukun bayi mampu meningkatkan harapan hidup ibu dan bayi.

3.2            Saran
3.2.1         Saran untuk Mahasiswa
                        Mahasiswa hendaknya lebih giat belajar lagi terutama memahami  perannya sebagai calon bidan siaga yang terjun langsung di masyarakat untuk meningkatkan derajad kesehatan masyarakat itu sendiri.

3.2.2         Saran untuk Masyarakat
                        Diharapkan masyarakat memahami setiap wawasan/ pengetahuan yang diberikan oleh tenaga kesehatan terutama mengenai resiko persalinan yang ditolong oleh non tenaga kesehatan, sehingga masyarakat mengerti bagaimana menjaga keselamatan ibu dan bayi dengan bersalin di tenaga kesehatan.
3.2.3         Saran untuk Tenaga Kesehatan
Meningkatkan peran bidan pada fungsi sebagai pelaksana kebidanan lebih meningkatkan kemampuan serta keterampilan yang dimiliki.
3.2.4         Saran untuk Institusi
                        Insitusi diharapkan membantu mahasiswa dalam menyediakan referensi guna menunjang proses study demi meningkatkan kualitas mahasiswa sebagai calon tenaga kesehatan yang kompeten.








DAFTAR PUSTAKA


Ambarwati, Eny dkk. 2009. Asuhan Kebidanan Komunitas. Yogyakarta : Numed
Dep Kes RI. 1994. Pedoman Supervisi Dukun Bayi.
Meilani, Niken dkk. 2009. Kebidanan Komunitas. Jakarta : Salemba Medika
Syafrudin, SKM, M. Kes, dkk. 2009. Kebidanan Komunitas. Jakarta : EGC.
Yulifah Rita, Tri Johan Agus Yuswanto. 2009. Asuhan Kebidanan Komunitas. Jakarta: Salemba Medika.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar